05PAW / 1100005330 / Fransisca Fortunata Dewi
1. Siapakah orang yang rendah hati dan mau mengampuni itu ?
Jawab : Orang yang rendah hati dan mau mengampuni itu adalah orang – orang yang dapat mencontoh gambaran Tuhan yang Maha Pengampun, mau mengampuni kesalahan yang telah manusia perbuat asalkan manusia tersebut mau bertobat.
2. Bagaimana kita bisa keluar dari hambatan mau mengampuni ?
Jawab : untuk dapat keluar dari hambatan mau mengampuni, dibutuhkan kerendahan hati dan kebesaran jiwa, yang disertai iman yang kuat.
3. Terangkanlah konsep-konsep agama-agama tentang pengampunan Tuhan!
Jawab :
| Agama | Konsep tentang pengampunan Tuhan |
| Islam | Dalam agam Islam, diajarkan bahwa Tuhan itu Maha Pengampun. Ia menyayangi orang dan suka memberikan pengampunan. Ada sekurangnya 13 ayat yang tersebar dalam 13 surat Al-Quran yang berisi : ”Maka mintalah ampun kepadaNya atas kesalahan – kesalahan yang kamu lakukan terhadapNya.”.
Tuhan digambarkan sebagia yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun, yang akan mengampuni dosa manusia, seberat dan sebesar apapun dosa manusia tersebut, kecuali terhadap orang yang mempersekutukanNya dengan yang lain (syirik), atau menyamakan Tuhan dengan tuhan yang lain. |
| Kristen
dan Katolik |
Dalam Alkitab terdapat ayat – ayat yang memperlihatkan betapa Tuhan senantiasa mau mengampuni dosa – dosa umatNya. Bagi orang Kristiani, gambaran tentang kemurahan Allah untuk mengamnpuni umatNya, dilukiskan dalam cerita tentang ”Anak yang Hilang”, cerita tentang seorang anak muda yang sudah meninggalkan rumah orang tuanya, melakukan berbagai kejahatan dan dosa. Ketika dia kembali ke rumah orang tuanya, dia diterima oleh Bapanya dengan sukacita yang amat besar (Lukas 15 : 11)
Umat Kristen percaya bahwa tindakan Allah mengutus PuteraNya, Yesus ke dunia, dan pengorbanan Yesus dengan menderita, wafat dan dimakamkan, merupakan tindakan kasih yang tak terhingga besarnya dari Tuhan sebagi sarana untuk mengampuni umat manusia. |
| HIndu | Dalam agama Hindu, Tuhan diakui sebagai Maha Pengampun, sebagaimana tertuang dalam kitab Bhagavad Gita IX.30 : ”Sekalipun orang paling jahat, bila memujakku dengan tulus, dengan pengabdian terpusat dan kembali menjadi sang sadhu (orang saleh), Aku terima karena ia telah kembali ke jalan yang benar.”
Umat Hindu yang mempercayai karma juga percaya bahwa dengan memperbanyak berbuat kebajikan, maka dosa yang telah di perbuat dapat menjadi berkurang, bahkan dapat melebur secara otomatis, seumpama setetes noda hitam (kajahatan) di dalam gelas terisi air putih (kebajikan). Tinta hitam itu tidak lagi tampak jika air putih diperbanyak, demikian pula kejahatan akan lebur dan tidak terasa karena kearifan (mandawa) dan kerendahan hati (mardawa) |
| Buddha | Dalam agama Buddha, hidup manusia dikuasai kehausan (akan hawa nafsu, akan kelangsungan dan kelahiran, akan tidak kelangsungan atau pemusnahan diri). Kehausan – kehausan tersebut membawa manusia ke dalam dosa yang berujung pada karma buruk. Untuk menghapuskan karma buruj tersebut, Buddha tidak memiliki wewenang. Yang dapat menghapus dosa manusia adalah manusia itu sendiri. Hukum karma bukanlah hukum pembalasan, sehingga terdapat jalan untuk mempengaruhi dan menekan akibat karma buruk dengan cara mengembangkan kemampuan dan kebiasaan baik lahir dan batin (dapat dikatakn sebagai penebusan). Salah satu cara yang dianjurkan untuk memlihara dan mengembangkan kemampuan dan kebiasaan baik itu, adalah dengan cara melakukan ”Jalan Mulia Berunsur Delapan”, yang meliputi Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Daya upaya Benar, Perhatian Benar, dan Semedi Benar. |
4. Uraikanlah teori-teori pertobatan menurut agama-agama!
Jawab : kata ”pertobatan” dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani ”metanoia” (meta = perubahan , nous = mentalitas). Teori pertobatan menurut masing – masing agama :
| Agama | Teori Pertobatan |
| Islam | Dalam agama Islam, dikenal adanya istilah kesalahan kecil (yang cukup melakukan permintaan maaf) dan kesalahan besar (yang harus meminta ampun dengan melakukan pertobatan).
Untuk mendapat pengampunan, ada persyaratan sufistik yang harus dipenuhi, yaitu berjanji dengan dirinya sendiri yang disaksikan oleh perasaan hadirnya Tuhan, bahwa ”dia sama sekali tidak mau mengulangi kesalahan yang dilakukannya”. Dia juga berjanji untuk ”menyesali perbuatan – perbuatan yang telah dilakukan”, dan seterusnya. Juga ditekankan, supaya hidup seseorang itu bahagia, aman sentosa, jauh dari penderitaan, ancaman dan segala kejahatan, maak perlu selalu berintrospeksi (muhasabah), selalu bertanya pada diri sendiri apakah yang telah saya lakukan hari ini dan sebelumnya baik atau tidak. Jika sekiranya disadari telah melakukan kesalahan, segeralah meminta maaf jika kesalahan kecil dan segeralah memohon ampun melalui pertobatan jika melakukan kesalahan besar. |
| Kristen
dan Katolik |
Dalam agama Kristen, pertobatan harus ada agar bisa memperoleh pengampunan. Maka dari itu, seruan atau ajakan pertobatan sering diserukan, melalui Yohanes Pembaptis kepada pendengarnya, ketika Yesus datang ke Galelia dan memberitakan Injil, dan pada suatu kesempatan lain Yesus mengungkapkan bahwa ada sukacita besar di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. Yesusu juga tidak menyatakan kebinasaan orang yang tidak bertobat. |
| Hindu | Dalam agama Hindu, untuk mendapatkan pengampunan diperlukan upaya yang tidak menggunakan uang, tetapi dengan melaksanakan perintah agama, berbuat baik sebanyak – banyaknya, antara lain dengan cara :
|
| Buddha | Dalam agama Buddha, kehidupan kita yang sekarang ditentukan oleh perbuatan kita di masa lalu, karena seluruh kehidupan manusia merupakan mata rantai yang tiada ujung disambung oleh karma. Perbuatan baik akan menghasilkan karma baik dan perbuatan buruk akan menghasilkan karma buruk. Jika sudah terlanjur melakukan perbuatan buruk, untuk dapat menghapus karma buruk yang akan didapat, hanyalah dapat dilakukan oleh orang yang bersangkutan dengan memperbanyak melakukan perbuatan baik. |
5. Jabarkanlah perintah mengampuni menurut agama-agama!
Jawab : penjabaran perintah mengampuni menurut agama – agama :
| Agama | Penjabaran perintah mengampuni |
| Islam | Bagi umat Islam, perintah untuk mengampuni adalah perintah terpenting selain perintah untuk mengasihi. Sesuai dengan sifat Tuhan yang Maha Pengampun, maka umatNya diharapkan juga dapat saling mengampuni. Seperti yang tertulis di surat Ali Amran (Ali Amran ayat 132 – 134) : ”Dan patuhlah kepada Allah dan RasulNya, biar kalian mendapat rahmatNya. Demikian pula segeralah memohon ampun kepada Allah, karena surga yang luasnya seluas bumi dan langit itu dijanjikan kepada orang yang bertakwa, yaitu orang – orang yang mampu mengeluarkan sedekah, baik sewaktu mereka dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit, dan orang – orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan kesalahan orang – orang. Sesungguhnya Allah menyukai orang – orang yang berbuat kebajikan.”
Dalam Sabda Nabi bahkan dinyatakan bahwa pemberian maaf hendaknya diberikan sebelum yang melakukan kesalahan itu meminta maaf. |
| Kristen
dan Katolik |
Yesus juga telah memberi ajaran dan teladan dalam hal pengampunan. Yesus sendiri tidak membalas ketika Dia dianiaya oleh para pembunuhNya.
Dalam berbagai kesempatan, Yesus dan Rasul Paulus menganjurkan umat Kristiani untuk saling mengampuni. Hal ini juga tertuang dalam penggalan doa Bapa Kami : ”…ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami” (Matius 6 : 9 – 13) Dengan disemangati oleh pengampunan dari Tuhan, kita diharapkan mau mengampuni sesama yang bersalah kepada kita secara tulus. Dapat dikatakan bahwa kesediaan kita untuk mengampuni merupakan suatu tanda syukur kita kepada Tuhan, yang begitu baik terhadap kita. Khususnya dengan mengampuni kesalahan dan dosa – dosa kita. |
| Buddha | Dalam ajaran Buddha, salah satu pencapaian kerohanian yang harus dicapai adalah dana paramita, yaitu kemurah-hatian. Memberi maaf adalah tanda atau sifat dari orang yang murah hati. Sebagaimana tertulis dalam Dhp. 5 : ”Dalam dunia ini kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci.”
Umat Buddha percaya, berkat kesediaan memaafkan, diharapkan orang yang berbuat salah dapat selamat dan bebas dari penderitaan, khususnya karena kekuatan pikiran yang tenang dan damai, penuh dengan cinta dan belas kasih. |
6. Melihat kisah Nelson Mandela, dalam kita memaafkan dibutuhkan rendah hati. Jelaskan kisah tersebut! Apa pesan maknanya bagi anda?
Jawab : Nelson Mandela dijadikan tahanan politik selama 25 tahun. Setelah dibebaskan, sebenarnya ia dapat melakukan pembalasan dendam, namun tidak dilakukan. Kepada teman – temannya yang ingin membalaskan dendamnya, Nelson mengatakan, ”kalau perihal disakiti, sayalah yang paling disakiti dan paling menderita. Selama 25 tahun saya dipenjara, walau sesungguhnya saya tidak berbuat kejahatan. Jangan kita melakukan pembalasan. Marilah kita membangun perdamaian di antara kita.” Ditambah dengan imannya, akhirnya ia berhasil berkarya yang mengantarkannya menjadi salah satu tokoh dunia yang paling dikagumi pada jaman ini sebagai tokoh rekonsiliasi dan perdamaian yang sungguh menggugah hati banyak orang yang merindukan perdamaian.
Makna dalam kisah Nelson Mandela membuktikan bahwa mengampuni sesama tetap mungkin dilakukan.
7. Apa yang bisa membentuk karakter anda secara otomatis terbentuk sesuai dengan nilai yang ada dalam diri anda sendiri?
Jawab : Yang dapat membentuk karakter kita secara otomatis terbentuk sesuai dengan nilai yang ada dalam diri kita sendiri, adalah jika kita memikirkan apa yang dapat kita lakukan bagi kebaikan orang lain.
8. Sebutkan fondasi untuk bisa rendah hati?
Jawab : fondasi – fondasi untuk bisa rendah hati :
- Kenyataan bahwa kita semata – mata bergantung pada Tuhan.
Kita tidak dapat mengubah kehidupan kita dengan hanya kemauan diri kita sendiri tanpa persetujuan Tuhan. Kita hanya mungkin terbebas dari hukuman dosa karena belas kasihan dan pengampunan dari Tuhan, yang selalu bersedia menerima tobat kita dihadapanNya.
- Kenyataan bahwa di dalam lubuk hati kita yang terdalam, tertanam keinginan dan kerinduan kuat untuk mau diampuni.
Hal ini diharapkan dapat mendoirong kita dengan tulus mau memaafkan atau mengampuni.
- Pengalaman yang dirasakan, yang tidak bisa dibayar dengan uang, ketika kita berhasil mengampuni seseorang yang bersalah kepada kita.
Semakin tulus kita memaafkan, semakin dalamlah pengalaman rohani yang kita nikmati.
9. Sebutkan sikap apa saja yang bisa kita lakukan untuk bisa kita hayati dan kembangkan rendah hati itu?
Jawab : sikap yang bisa kita lakukan untuk bisa kita hayati dan kembangkan dari rasa rendah hati itu :
- Ketidakengganan kita untuk minta maaf
- Kesiapsediaan hati untuk memaafkan
- Pengalaman diampuni
10. Apa makna dari pemberian maaf dan ampunan itu?
Jawab : makna dari pemberian maaf dan ampunan :
- Terciptanya kedamaian
- Sebuah tanda kemenangan
- Memperlihatkan kebesaran jiwa
- Mengungkapkan kematangan pribadi
- Memperlihatkan kedewasaan iman
11. Apakah yang menjadi tanda kemenangan seseorang itu?
Jawab : yang menjadi tanda kemenangan seseorang itu adalah mereka mampu menghayati kerendahan hati dan mampu mengampuni dengan tulus. Keberhasilan seseorang menghayati kerendahan hati dan mampu dengan hati tulus mengampuni sesamanya, adalah sebuah tanda kemenangan atas kejahatan, sekaligus sebagai keunggulan hidup yang dimiliki seseorang.
12. Bagaimana anda memperlihatkan kebesaran jiwa anda?
Jawab : cara kita memperlihatkan kebesaran jiwa kita ialah dengan bersikap mau mengalah, tidak menonjokan diri, mendahulukan orang lain, serta rendah hati.
13. Kematangan pribadi diungkapkan oleh apa?
Jawab : kematangan pribadi diungkapkan oleh kemampuan untuk tetap konsisten dengan sikap rendah hati dan mau mengampuni. Sikapnya tidak ditentukan oleh keadaan yang terjadi di luar dirinya.
14. Apa yang dimaksud kedewasaan iman itu?
Jawab : seseorang dikatakan memiliki kedewasaan iman apabila orang tersebut mampu mengalahkan kecenderungan – kecenderungan rendah insaninya dalam menghadapi berbagai situasi yang dihadapinya. Dia mampu melakukan tindakan bernafaskan iman walau tidak mendapatkan penghargaan dan penilaian baik dari siapa pun. Bila dikaitkan dengan penghayatan iman, tanda kedewassan iman adalah memiliki kerendahan hati dan kesiapsediaan untuk mengampuni sesama.


Terlihat pada flowchart di atas, apabila tidak ada Selection yang mengecek apakah nilai i sudah tidak memenuhi “< 5″ (yang dalam hal ini kami anggap sebagai pengendali), maka Repetition tersebut akan looping forever.




